Kenangan Indah
Beberapa hari yang lalu aku baru saja kehilangan orang yang sangat berarti sekali dalam hidup aku. Memangsih aku jua gak pernah akur sama kakak, tetapi aku baru sadar ketika aku sudah kehilangan kakak. Kakak meninggal karna kecelakaan motor beberapa hari yang lalu, di saat aku sedang sangat marah dengan kakak.
Sehabis pulang sekolah aku sedang duduk-duduk di teras atas lantai dua rumah ku,beberapa menit kemudian kakak datang dan menggangguku dengan cara meledekku. “ cya… adik kakak lagi santai ni yeee…” kata kakak dengan logat meledek. “ emang kenapa sih ka, gak bisa liat aku lagi santai apa!!!” aku pun membalas ledekan kakak dengan nada sedikit marah. Tetapi kakak gak berhenti untuk terus meledekku. “ em… adik lagi gerah ya? Kenapa gak mandi, kan banyak air got tuh di luar.”ejekan kakak semakin menyebalkan, aku ingin membalas ejekan kakak tetapi temanku datang ke rumah untuk memberikan hasil ulanganku yang nilainya jelek dan emang sengaja aku buang. “ ni aku baik kan mau nganterin hasil ulangan kamu yang jatuh di tong sampah.” Kata Tia dengan tertawa di tahan.
“ dasar kau menyebalkan…”nada amarahku pun hampir saja keluar. “ kenap dik?” tiba-tiba kaka datang menghampiri aku dan Tia di halaman depan dan langsung mengambil kertas ulanganku yang bernilai LIMA yang sedang aku pegang. “ ha… lima… hahaha nilai apaan nih…” nada tertawanya itu loh yang menyebalkan “ sini ka kembaliin.” Aku pun mencoba untuk mengambilnya kembali dari tangan kakak, tetapi tiba-tiba mama keluar dari rumah. “ ada apa ini, kenapa sih kalian selalu saja rebut. Sehari aja kalian gak ribut.”
“ ini ma masa adik dapat nilai ulangan lima.”
“ apa…. lima!!!!!!!!!!!” Mama kaget dan seperti biasa, beliau selalu saja memelototkan matanya bila sedang marah.” Nilai appan tuh… kamu harus lebih giat belajar. Coba contoh kakak kamu yang selalu mendapatkan nilai bagus. Kamu itu harus seperti kakak! Nah mulai sekarang kamu setiap pulang sekolah gak boleh main sampai kamu bisa memperbaiki nilaimu yang buruk rupa itu.” Kata mama dengan nada marah. “ hahaha lima…” kaka pun ikut meledek. Ini semua salah kakak, pokonya ini semua salah kakak.
Beberapa jam kemudian kakak pamit pergi ke rumah temanya, dia menggunakan sepeda motor untuk sampai ke rumah temanya yang kebetulan rumah temenya memang cukup jauh untuk di tempuh dengan berjalan kaki. Karna aku masih kesal sama kakak, saat kakak pergi aku pun berkata “ ka jangan balik lagi ya.” Nadaku bercanda. Beberapa menit kakak mulai menghilang dari pandangan kami kemudian disusul oleh beberapa jam. Jam pertama kami melakukan aktifitas seperti biasa di rumah, jam ke dua masih seperti biasa, jam ketiga mulailah ada telefon yang entah dari siapa.
Pertama-tama mama menggenggam telefon tersebut, mulailah mama mengangkat telefon tersebut, beberapa menit kemudian wajah mama pucat dan penuh dengan keringat beberapa saat kemudian mama mulai menangis dan menutup telefon dengan linangan air mata yang cukup membanjiri wajah mama. Aku dan papapun mulai heran dan menghampiri mama.
“ ma ada apa?” tanya papa heran
“ ma… mama kenapa?” aku pun tidak mau kalah untuk bertanya kepada mama. Tetapi semakin kita tanya air mata mama semakin berlinang dan tangisan mama malah semakin kencang. “ ma… mama kenapa?” tanya ku kembali.
“ kakak… kakak KECELAKAAN…”
“ apa… ini semua gak mungkin ma. Lalu bagai mana kondisinya?”
“ kakak MENINGGAL…”
“ apa… ini semua gak mungkin terjadi… enggak…” kami pun larud dalam kesedihan. Papa memeluk mama dengan erat dan aku menangis dan berlari ke kamar kakak dan memeluk foto kakak dengan erat sambil menyesali semua yang sudah terjadi. Beberapa menit kemudian papa mengajak kami untuk melihat jenazah kakak.
Sesampainya di rumah sakit kamipun di antar kekamar jenazah oleh salah satu perawat di rumah sakit tersebut untuk melihat mayat kakak. Aku, mama, dan papa terus mengikuti perawat tersebut ke ruangan yang kita tuju, sembari berjalan aku terus memegangi foto aku bersama kakak. Sampailah kami di kamar yang kami tuju. Perawat mulai membuka pintu perlahan kami pun mulai masuk. Sesampainya di sebuah jenazah, mama mulai membuka tutup tersebut dan itu benar kakak.
“ kakak… maafin adik… kakak bangun… kakak bangun…”
“ sayang denger mama sayang… kamu harus bangun kamu harus bangun…” suasana pun menjadi semakin mengharu biru. Di kamar itu aku tetap menangis dengan memegang foto kami berdua.
Keesokan harinya mayat kakak mulai di kuburkan. Perlahan-lahan mayat kakak di masukan ke liang lahat. Aku hanya bisa melihat dari atas dan hanya bisa menyesali semua ini. “ kenapa saat kakak masih hidup aku selalu saja bertengkar dengan kakak, kenapa pas kakak masih hidup aku selalu saja egois dan mau menang sendiri, kenapa… kenapa…” aku memangis tiada henti sepanjang pemakaman.
Esokan harinya keadaan rumah masih dipenuhi dengan duka, seminggu kemudian, dua minggu, tiga minggu, ini hampir sebulan keluarga kami tidak henti-hentinya dilumuti duka. Apalagi aku yang memang banyak salah dan durhaka sama kakak. Ternyata benar kalau penyesalan memang selalu datang terakhir. Di saat semua sudah terjadi aku baru merasa kesepian dan kangen akan sosok kakak yang selalu menjaili aku setiap hari, aku kangen dengan masakan kakak, aku kangen dengan puisi-puisi yang selalu kakak buat untuk aku, walaupun isi puisi itu ledekan untuk aku. Tapi aku kangen ini semua… aku kangen sama kakak.
Komentar